Jumat, 28 September 2012

Psikodiagnostik II (Observasi)


Review Jurnal Part 2

v  Jurnal pertama berjudul “EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN GOTONG ROYONG (COOPERATIVE LEARNING) UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI PELAJARAN MATEMATIKA”. Latar belakang memilih jurnal ini karena merasakan hal yang sama pada waktu sekolah memiliki kecemasan saat menghadapi pelajaran matematika. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas 2 SMP 26 Semarang yang berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 16 orang. Siswa dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, pada kelompok eksperimen diberlakukan metode pembelajaran gotong royong, sedangkan kelompok kontrol tidak diberlakukan. Hal ini terjadi selama 4 kali pertemuan. Setelah itu semua siswa diberi posttest yang sama berupa skala kecemasan seperti pada subtest awal.  Hasil obervasi, pada awal kelas dimulai belum terlalu banyak interaksi yang tercipta. Setelah beberapa saat kemudian nampak adanya interaksi antar siswa dalam kelompok. Siswa saling berbicara satu sama lain dalam kelompok sambil memegang kertas soal. Siswa terlihat melakukan interaksi antar kelompok. Suasana kelas aktif dan riuh ramai. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian perlakuan berupa Metode Pembelajaran Gotong Royong (Cooperative Learning) terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika. Ada perbedaan kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan mengalami penurunan skor kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika, sedangkan kelompok kontrol tidak. Dengan metode pembelajaran gotong royong siswa menjadi lebih rilex dalam menghadapi pelajaran matematika.

v  Jurnal kedua berjudul “KECEMBURUAN PADA KAUM HOMOSEKSUAL PRIA (GAY) DI JAKARTA”.  Latar belakang oleh kasus Ryan, seorang gay yang memutilasi pasangan gay nya karena kecemburuan pada tahun 2008, dan kaum gay sebagai minoritas dimasyarakat.  Tujuannya, ingin mengetahui lebih lanjut mengenai gambaran kecemburuan pada kaum gay di Jakarta. Responden berjumlah 3 orang yang berjenis kelamin laki-laki,memiliki orientasi homoseksual, usia dari 20-40 tahun,sudah pernah melakukan hubungan seksual, pendidikan minimal SMA, dan berdomisili dijakarta dan sekitarnya. Ketiga subjek menyadari orientasi seksual nya sejak usia remaja. Keseluruhan subjek diketahui bahwa terdapat semua faktor potensial yang menyebabkan ia menjadi gay seperti terdapat pada model teori. Faktor potensial itu adalah ketidakadaan figur ayah (ayah sebagai tokoh negatif),  terisolasi dari lingkungan sekitar, perasaan rendah diri, jenis permainan saat masih kecil, dan gaya hidup.

v  Jurnal ketiga berjudul “JURNAL KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA”. Latar belakang memilih jurnal ini karena kelompok ingin mengetahui setinggi apa rasa kohesivitas yang ada dalam kelompok the jakmania. Kohesivitas adalah bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari sebuah kelompok. Persija adalah sebuah klub sepak bola yang terletak di Jakarta. Persija berdiri pada tanggal 28 November 1928 dan memiliki julukan Macan Kemayoran. Suporter Persija dikenal dengan sebutah The Jakmania. Ketika dibentuk, dipilihlah figur yang dikenal di mata masyarakat. Gugun Gondrong merupakan sosok yang paling dikenal saat itu dan memimpin The Jakmania pada periode 1999-2000. . Pada awalnya The Jak mania hanya terdiri dari 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Kesimpulannya, Kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania. ciri-ciri kohesivitas kelompok dapat dilihat dari: setiap anggota kelompok mengenakan identitas yang sama, setiap anggota kelompok memiliki tujuan dan sasaran yang sama, setiap anggota kelompok merasakan keberhasilan dan kegagalan yang sama, setiap anggota kelompok saling berkerja sama dan berkolaborasi, setiap anggota kelompok memiliki peran ke anggotaan, kelompok mengambil keputusan secara efektif.

Psikodiagnostik II (Observasi)


Kecemasan

Kecemasan adalah variable penting dari hamper semua teori kepribadian. Kecemasan sebagai dampak dari konflik yang menjadi bagian dari kehidupan yang tak terhindarkan, dipandang sebagai komponen dinamikakepribadian yang utama. Kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai.
Kecemasan dipandang sebagai komponen pokok dinamika kepribadian. Kecemassan ini mempunyai peranan sentarl dalam teori psikoanalisis. Kecemasan digunakan ego sebagai isyarat adanaya bahayayang mengancam.
Freud mengkalsifikasikan kecemasan ke dalam tiga tipe, yaitu sebagai berikut :
1.       Kecemasan realistis
Rasa takut (fear) terhadap bahaya yang nyata dalam dunia eksternal.
2.        Kecemasan neuritik
Rasa takut bahwa instink-instink akan di luar control dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang akan membuat seseorang di hukum.
3.        Kecemasan moral
Rasa bersalah ketika melakukan sesuatu atau berpikir tentang sesuatu yang berlawanan dengan aturan-aturan moral.

Tipe pokoknya adalah kecemasan realistis. Atau rasa takut pada bahaya-bahaya nyata dari dunia luar. Dan kecemasan lainnya berasal dari kecemasan realistis. Kecemasan neuritik adalah rasa takut jangan-jangan instink akan lepas kendali dan menyebabkan sang pribadi bebrbuat sesuatu yang berakibat ia dihukum. Kecemasan bukanlah ketakutan pada instink-instink itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika terjadi jika suatu instink dipuaskan.
Pada kecemasan moral terjadi karena rasa takut kepada suara hati. Pada orang yang super egonya berkembang baik, akan cenderung merasa bersalah jika mereka melakukan atau bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan moral dengan mana ia dibesarkan. Mereka disebut mendengarkan bisikan suara hatinya, bisikan hati nuraninya.


Sumber: 

Teori-Teori Psikodinamik Klinis 
Calvin S. Hall & Gardner Lindzey 
Yogyakarta, Kanisius 1993.

Jumat, 21 September 2012

Psikodiagnostik II (Obsevasi)


Review Jurnal Part 1

v  Kelompok 1
Judul jurnal “REALITAS  CINTA DIMATA REMAJA PEREMPUAN.” Studi Kasus Sindrom Cinta pada Seorang Perempuan Remaja Pasca Filem ‘ Ada Apa Dengan Cinta oleh Maria Lauranti Stephanie. Kelompok 1 memilih jurnal ini karena judul jurnal ini menarik untuk kalangan remaja, terutama remaja perempuan. Jurnal ini membahas tentang persepsi cinta dikalangan remaja setelah menonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Jurnal ini menggunakan teori kultivasi, kultivasi melibatkan proses belajar dan kontruksi dari pandangan menganai relita sosial yang bergantung pada keadaan pribadi dan pengalaman setiap individu dan juga keanggotaan dalam kelompok. Subjek penelitian adalah perempuan, usia 18 tahun. Penonton/penikmat film Ada Apa Dengan Cinta dan film lain dengan gender remaja. Penikmat musik pop remaja dan sinetron remaja, dan lingkungan pergaulan yang populer. Kesimpulannya, Informan memiliki pengetahuan yang terbatas karena faktor usia, keluarga, sekolah, dan lingkunagn pergaulannya. Informan tergolong yang tidak melek media. Informan tidak mampu melihat media secara kritis. Kecendrungan informan memaknai apa yang ada di media secara dominan dan menerapkannya sebagai karakter dirinya.

v  Kelompok 2
Judul jurnal "Mitos Tentang Kehamilan". Mitos adalah sistem kepercayaan dari suatu kelompok manusia, yang berdiri atas sebuah landasan yang menjelaskan cerita-cerita yang suci berkaitan dengan masa lalu. mitos yang dalam arti asli sebagai kiasan dari zaman purba merupakan cerita yang asal usulnya telah dilupakan, namun ternyata pada zaman sekarang mitos merupakan cerita yang dianggap benar. (Harsojo, 1988). Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm (Guyton, 1997). Subjek dalam penelitian ini adalah wanita hamil dengan usia kandungan 3 bulan di suatu tempat di Aceh. Peneliti jurnal ini memilih Aceh, karena disana masih banyak yang melaksanakan dan patuh kepada pantangan-pantangan, mitos, dan ritual untuk ibu hamil. Contoh dari mitos mitos yang berada disana antara lain, larangan untuk tidak duduk di anak tangga, tidak memegang gunting, tidak boleh melihat kera selama hamil, karena takut nantinya si anak yang dikandungnya setelah lahir wajahnya akan mirip kera. Kesimpulannya, masyarakat di suatu tempat di Aceh masih mempercayai mitos.
 

v  Kelompok 3
Judul jurnal “POST TRAUMATIC GROWTH PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA.” Pada penderita kanker payudara dinamika post traumatic growth atau pertumbuhan pasca trauma menuju perbahan hidup yang positif dan ingin memahami lebih jauh lagi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya post traumatic growth pada penderita kanker payudara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan paradigma fenomenolog. Dalam penelitian tersebut, hikmah yang dapat diambil adalah post traumatic growth atau pertumbuhan paska trauma. Secara teoritis, konsep pertumbuhan masa trauma didefinisikan sebagai pengalaman perubahan positif yang signifikan timbul dari perjuangan dari krisis kehidupan yang besar antara lain: apresiasi peningkatan hidup, pengaturan hidup dengan prioritas baru, rasa kekuatan pribadi meningkat dan spiritual berubah secara meningkat dan spiritual berubah secara positif. Kesimpulannya, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua fakor yang mempengaruhi aspek post traumatic growth pada kedua informan. Faktor tersebut dapat dibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berdasarkan pada pembahasan, dapat diketahui bahwa setidaknya terdapat 4 pertumbuhan pasca trauma atau (post traumatic growth) yang signifikan timbul dari perjuangan informan dalam menghadapi penyakit payudara ini, antara lain: peningkatan spiritualitas, positive improvement in life, proses sosial semakin tinggi, dan relasi sosial semakin baik.

Jumat, 14 September 2012

Psikodiagnostik II

Metode Observasi


Observasi adalah kegiatan mengenali tingkah laku individu yang biasanya akan diakhiri dengan mencatat hal-hal yang dipandang penting sebagai penunjang informasi mengenai klien. Dalam sebuah penelitian ilmiah kemampuan yang harus dimiliki adalah observasi. Observasi menggunakan fungsi pengindraan. Ada 5 pengindraan manusia, yaitu merasa, melihat, mendengar, mencium, dan peraba. Dalam observasi yang lebih diutamakan adalah secara visual, presentase sekitar 70%. Yang tidak boleh dilakukan dalam observasi adalah menggunakan unsur-unsur subjektivitas, melainkan harus objektif. Observasi hanya mendengarkan dan mencatat.

Tujuan utama metode observasional adalah untuk mendeskripsikan perilaku. para ilmuwan berusaha mendeskripsikan perilaku lengkap dan seakurat mungkin. Observasi menjadi sumber kaya bagi berbagai hipotesis tentang perilaku. observasi juga dapat menjadi langkah pertama dalam menemukan mengapa kita berperilaku dengan cara tertentu.
Observasi di golongkan menjadi 3 macam, yakni :
1.      Observasi medan atau alamiah (field setting), yaitu observasi di lapangan atau kancah atau di tempat yang sesungguhnya.
2.      Observasi simulative (simulated setting), yaitu observasi dengan simulasi situasinya.Artinya, situasi observasi bila individu mendapat suatu simulasi (tiruan) atau rangsangan untuk memperoleh tingkah laku tertentu.
3.      Observasi laboratoris (laboratory setting), yaitu observasi dengan situasilaboratorium, sehingga situasinya dapat dikendalikan sepenuhnya oleh observer.

Dua jenis observasi, ialah :
1.      Observasi sampel peristiwa (even-sampling), yakni hanya mengamati mengamati beberapa sampel tingkah laku pada saat tertentu.
Metode sampling merupakan metode yang lebih efektif dan lebih efisien untuk kejadian yang tidak sering. Even sampling juga bermanfaat dalam situasi-situasi selain untuk mengobservasi kejadian-kejadian yang dijadwalkan secara formal seperti waktu bermain selama hari-hari sekolah. Dalam even sampling pengamat mencatat semua kejadian yang memenuhi definisi yang telah ditetapkan sebelumnya,
2.      Observasi sampel waktu (time sampling), yakni mencatat dan mengamati apa sajayang dilakukan individu dalam waktu tertentu.
Time Sampling
·         Time sampling mengacu pada peneliti yang memilih interval waktu untuk melakukan observasi secara sistematis atau acak.
·         Jika peneliti tertarik pada kejadian-kejadian yang jarang terjadi, mereka menyadarkan diri dariu event sampling untuk mengambil sampel perilaku.
Peneliti biasanya menggunakan kombinasi time sampling dan situation sampling untuk mengidentifikasi sampel-sampel representatife. Dalam time sampling peneliti mencari sampel yang representative dengan memilih berbagai macam interval waktu dan observasinya. Interval itu dapat diseleksi secara sistematis (misalnya mengobservasi hari pertama di setiap minggu), secara acak, atau kedua-duanya sekaligus.

        Validitas eksternal mengacu pada sejauh mana hasil-hasil sebuah penelitian dapat digeneralisasikan ke populasi-populasi, settings, dan kondisi-kondisi yang berbeda. Validitas berhubungan dengan “truthfulness” (tingkat kepercayaan).

Dilihat dari posisi observer dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni :
1.       Observasi non-partisipan,
disini posis observer sebagai penonton, semacam ada di luar objek yang diamati. Observer tidak ikut serta dalam kegiatan individu yang di observasi.Observasi benar-benar berfungsi sebagai penonton, pengamat dan mencatat tingkah laku yang diobservasi. Atau bisa dikatakan juga, observasi di mana sipenyelidik (observer)tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh yang diobservasi. Jadi si penyelidik  berlaku sebagai penonton.
2.      Observasi partisipan,
di sini posisi observer turut serta dalam kegiatan individu yang diobservasi. Cara ini untuk memperoleh tingkah laku individu yang alamiah atau wajar,tidak dibuat-buat, tidak dilandasi oleh rasa curiga atau rasa sedang diamati. Atau observasi dimana si penyelidik ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan subyek yang diselidiki. Jadi disini si penyelidik tidak berlaku sebagai penonton, melainkansebagai pelaku atau peserta.
3.       Observasi dalam situasi eksperimental,
4.       pada dasarnya eksperimen adalah dengansengaja menimbulkan gejala tertentu untuk dapat diobservasi. Kecuali penimbulan gejaladengan sengaja itu di dalam situasi eksperimental hal-hal yang harus diobservasi itu banyak kali telah dipilih/ditentukan. Pengembangan metode ini makin lama maki intensif karena ternyata memang sangat besar kegunaannya.

Jika dilihat dari segi pencatatan hasil-hasil observasi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.     1.  Observasi dengan pencatatan langsung ( immediate recording ), artinya segera setelah observasi
     dilakukan atau ketika pengamatan sedangkan berlangsung , observer membuat catatan-catatan yang diperlukan.
2.     2.  Observasi dengan pencatatan retrospektif ( retrospective recording ),yaitu
        pencatatan setelah observasi selesai.

  Situation sampling
· Situation sampling melibatkan kegiatan mempelajari perilaku di lokasi-lokasi yang berbeda dan berbagai
    keadaan dan kondisi yang berbeda.
·  Situation sampling meningkatkan validitas eksternal temuan yang diperoleh.
· Dalam berbagai situasi, subject sampling dapat digunakan untuk mengobservasi sebagian orang dalam
   setting itu.

     Peneliti dapat meningkatkan secara signifikan validitas eksternal temuan observasionalnya dengan menggunakan situation sampling. Situation sampling melibatkan observasi perilaku di banyak lokasi yang berbeda dan dalam keadaan dan kondisi yang seberbeda mungkin.

Klasifikasi Metode Obsevasional
v  Metode-metode observasional dapat diklasifikasikan sebagai “observasi dengan intervensi” atau “observasi tanpa intervensi”.
v  Metode untuk mencatat perilaku dapat diklasifikasikan dalam hubungannya dengan berapa banyak perilaku yang dicatat.

Observasi Tanpa Intervensi
  • Tujuan observasi naturalik adalah untuk mendeskripsikan perilaku seperti yang terjadi secara normal dan meneliti hubungan diantara berbagai variable.
  • Observasi naturalistic membantu memantapkan validitas eksternal temuan-temuan laboratories.
  • Bila pertimbangan etik dan moral tidak memungkinkan dilakukannya control eksperimental, observasi naturalisis menjadi strategi penelitian penting.

Observasi dengan Intervensi
§Kebanyakan penelitian psikologi menggunakan observasi dengan intervensi.
§ Tiga metode observasi dengan intervensi adalah participant observation, structured observation, dan field
  experiment.


Participant Observation
è Participant observation yang dilakukan secara terang-terangan sering digunakan untuk memahami budaya dan perilaku kelompok-kelompok individu
è Participant observation yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi sering kali digunakan bila penelitinya percaya bahwa individu-individu akan mengubah perilakunya bila tahu bahwa dirinya sedang diamati.
è Participant observation memungkinkan peneliti untuk mengobservasi berbagai perilaku dan situasi yang biasanya tidak terbuka bagi observasi ilmiah.
è Participant observer kadang-kadang mungkin kehilangan objektifitas atau terlalu banyak memengaruhi individu-individu yang mereka amati. 


      Sumber :
Anastasi, Anne 2007. Tes Psikologi. Jakarta : PT. Indeks
John, J.S., Eugene, B. Z., & Jeanne, S. Z. (2007). Metodelogi Penelitian Psikologi (ed. 7th). Yogyakarta : Pustaka Belajar.